foto

foto
jpg

Kamis, 16 Februari 2012

Indahnya Tanggung Jawab


Air mata berlinang di pipinya saat oma itu menerima komuni kudus. Dia duduk sambil menyandarkan tubuhya yang lumpuh di atas sebuah kursi tua, mungkin setua dirinya sendiri. Sementara suaminya berdiri di sampingnya. Memegang bahunya. Tangannya gemetar. Tetapi matanya lembut menatap istrinya dengan penuh kasih. Dan kami memandang mereka diam-diam. Berdoa. Dan merasakan suatu perasaan lembut meresap dalam hati. Opa dan oma yang hidup hanya berdua di sebuah rumah sederhana. Tetapi dengan taman yang tertata rapi. Dan bebungaan yang indah tumbuh di taman depan rumah mereka. Setiap kali kami datang membawa komuni, setiap kali pula kejadian yang sama terulang. Suatu perasaan damai. Suatu keindahan cinta kasih dari pasangan yang telah melalui sejarah hidup yang panjang. Suatu kekuatan iman pada tubuh Kristus yang diterimanya.

Maka setiap kali mendengar kekisruhan dalam rumah tangga, pertengkaran, perceraian dan perselingkuhan, setiap kali pula kukenang opa dan oma itu. Dan setiap ada yang mempertanyakan keberadaan cinta kasih dan kekuatan iman dalam menghadapi hidup ini, selalu pula kuingat mereka. Kapasitas kita dalam menghadapi dan menerima tantangan hidup sesungguhnya terletak pada diri kita sendiri. Mengapa harus mempersalahkan orang lain jika kitalah yang gagal untuk menguasai diri? Mengapa terus mempersalahkan Tuhan jika sesungguhnya apa yang kita alami berawal dari keputusan kita sendiri? Tak sadarkah kita bahwa jalan yang kita tempuh sekarang merupakan hasil dari pilihan kita sendiri? Tuhan tidak pernah memaksa kita untuk memilih jalan hidup yang kini kita tempuh. Tuhan memberi kita kebebasan yang amat besar untuk menentukan nasib kita sendiri. Maka kita sendiri yang harus bertanggung jawab atas apa yang kini kita alami. Kita sendiri.

Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." (Kej 2:16-17). Demikianlah Tuhan memberi kita kebebasan penuh untuk berbuat dan mengalami. Tuhan hanya membatasi kita dengan satu kewajiban sederhana, untuk tidak memakan buah terlarang dari pohon pengetahuan. Tetapi kita toh tetap punya pilihan untuk memakannya, jika kita mau. Dan ternyata kita pun mau. Apakah dengan demikian Tuhan bersalah karena telah menciptakan pohon terlarang itu? Mengapa kita sendiri sering merasa marah lalu mempersalahkan orang lain atas kemalangan yang menimpa kita? Atau mempersalahkan lingkungan kita? Atau situasi? Bukankah semuanya mutlak merupakan pilihan hidup yang telah kita ambil sendiri?

Indahnya pilihan hidup yang telah kita putuskan bukan hanya nampak dari kebahagiaan yang kita nikmati. Tetapi terlebih-lebih terpancar saat kita mengalami penderitaan. Cinta kasih bukan terletak dalam kesenangan semata. Tetapi juga dalam kesengsaraan. Setiap kali kami datang mengunjungi opa-oma itu, setiap kali pula kami merasakan sentuhan cinta kasih dalam setiap elusan lembut opa tua itu pada bahu istrinya yang kini sama sekali tak mampu untuk membalasnya. Dalam pandangan mata mereka. Maka ketika mata oma itu mulai berkaca-kaca saat dia meresapi kehadiran tubuh Kristus yang diterimanya, saat itu pula kami diberikan suatu kekuatan baru untuk tetap setia melayaniNya. Sebab, bukankah kuk yang dipasangNya itu enak dan beban dariNya pun ringan, selama kita tetap setia dan konsisten untuk belajar dariNya? Sungguh Indahlah tanggung jawab yang telah diberikan Tuhan atas pilihan yang telah kita ambil sendiri. Dan itulah hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar