foto

foto
jpg

Selasa, 25 Januari 2011

Darah (Dideh) Makanan yang haram bagi umat kristiani??? Why?
Sumber : http://www.mail-archive.com


Larangan makan darah bagi umat Kristen?

Menanggapi soal makanan saksang atau makanan yang dicampur dengan darah, maka
marilah kita telaah bersama dengan sungguh-sungguh dan memohon tuntunan
Rohulkudus untuk membawa kita kepada segala kebenaran firman TUHAN, sebagaimana
diuraikan dalam artikel dibawah ini. Selamat mendalami kebenaran Firman TUHAN !

LARANGAN MAKAN DARAH, LEMAK DAN MAKANAN HARAM BAGI UMAT KRISTEN ?

Dari sekian banyak masalah yang timbul di tengah-tengah Jemaat Kristen, maka
masalah makan darah, lemak dan makanan haram menempati urutan yang penting.
Sehubungan dengan masalah darah, lemak dan makanan haram, terdapat tiga
golongan orang Kristen yaitu:

1.. Golongan yang tidak memantangkan darah, lemak dan makanan haram. Mereka
yang berpendapat demikian dikenal dengan golongan Kristen tradisionil pada
umumnya.
2.. Golongan yang hanya menolak makan darah & lemak, tetapi tidak menolak
makan makanan haram. Mereka yang berpendapat demikian dikenal dengan golongan
orang-orang Kristen Kharismatik misalnya.
3.. Golongan yang memantangkan darah, lemak dan makanan haram. Mereka yang
berpendapat demikian dikenal dengan golongan Kristen Advent pada khususnya.

Persoalan boleh makan darah, lemak dan makanan haram, atau tidak boleh makan
darah, lemak dan makanan haram sangatlah penting bagi kita karena menyangkut
tiga hal yaitu:

1.. Berkaitan dengan puluhan juta orang Kristen yang memerlukan pengajaran
Alkitabiah mengenai darah, lemak dan makanan haram. Iman yang keliru akan
menghambat pertumbuhan kita menuju tingkat kedewasaan penuh. Jika keyakinan
kita tentang darah, lemak dan makanan haram, tidak sesuai dengan Firman TUHAN,
maka masalah ini akan menimbulkan kesalahan lainnya pada ajaran yang lain.
Karena Firman TUHAN merupakan mata rantai yang tidak putus satu dengan yang
lain.
2.. Karena orang Kristen sering terlibat dalam urusan kemasyarakatan dan adat
istiadat dimana darah, lemak dan makanan haram menjadi hidangan tradisi.
3.. Karena berhubungan dengan satu bagian dari firman Tuhan yang tidak boleh
dikurangi dan juga tidak boleh ditambah-tambahi.

Dengan demikian kita harus mengajukan beberapa pertanyaan sebagai bahan diskusi
dan renungan.
1.. Apakah Alkitab membenarkan orang Kristen memakan darah, lemak dan makanan
haram?
2.. Apakah Alkitab melarang orang Kristen memakan darah, lemak dan makanan
haram?

Orang-orang Kristen yang memakan darah, lemak dan makanan haram, berpendapat
tidak salah memakannya. Mereka memberi alasan-alasan sebagai berikut:

1.. Larangan makan darah, lemak dan makanan haram adalah ajaran Kitab
Perjanjian Lama.
2.. Dalam tradisi suku-suku, darah, lemak dan makanan haram adalah makanan khas
sehingga gereja harus menyesuaikan diri dengan adat suku-suku tersebut sehingga
mereka mau menjadi anggota gereja.
3.. Memakan darah, lemak dan makanan haram, atau tidak memakannya, tidak ada
hubungannya dengan keselamatan manusia, tidak menentukan apakah seseorang masuk
surga atau tidak.
4.. Darah, lemak dan makanan haram adalah makanan yang lezat sehingga bodoh
sekali jika kita menolak untuk memakannya.
5.. Pantangan memakan darah, lemak dan makanan haram itu bersifat "Tauratisme"
dan membawa kita mundur ke alam :"Roh Perjanjian Lama", kealam gunung Sinai.
6.. Bahwa bukan yang masuk kedalam mulut kita yang menajiskan, melainkan yang
keluar dari mulut yang menajiskan orang.

Alasan-alasan diatas seolah-olah Alkitabiah dan tidak menyalahi kebenaran
Firman TUHAN. Tetapi benarkah alasan-alasan itu sesuai dengan Firman TUHAN?
Dalam hal ini satu-satunya yang berhak menyatakan benar atau tidak benar ialah
ALKITAB, bukan pendapat pendeta, bukanpula pendapat gereja.

Bertolak belakang dengan pendapat diatas maka orang-orang Kristen yang menolak
makan darah, lemak dan makanan haram, memberi alasan bahwa hal-hal tersebut
tidak boleh dimakan disebabkan alasan-alasan sebagai berikut:

1.. Adalah penting bersikap menghargai makanan yang TUHAN ciptakan sebagai
makanan dan tidak mengonsumsi yang dilarangnya. Makanan terbaik yang TUHAN
sediakan bagi manusia adalah kacang-kacangan, biji-bijian dan buah-buahan:
"Lihatlah Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji diseluruh
bumi dan segala pohon yang buahnya berbiji itulah yang akan menjadi makananmu."
(Kej 1:29).
2.. Setelah manusia jatuh kedalam dosa, maka TUHAN menambahkan menu
sayur-sayuran pada makanan mereka: "Tumbuh-tumbuhan dipadang akan menjadi
makananmu." (Kej 3:18).
3.. Pada peristiwa air bah di zaman nabi Nuh, maka TUHAN mengizinkan manusia
untuk menyembelih binatang dan memakan daging yang halal (Kej 7:2,3). Ada
batasan hewan halal (boleh dimakan) dan hewan haram (dilarang dimakan). Dengan
ketentuan selanjutnya: "Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya,
janganlah kamu makan." (Kej 9:3,4)
4.. Lama sesudah air bah, yaitu pada zaman nabi Musa, maka TUHAN menegaskan
kembali akan batasan hewan halal dan hewan haram. (Imamat 11 ; Ulangan 14).
Secara rinci TUHAN memberikan batasan dengan jelas dalam beberapa kelompok
kategori hewan halal dan hewan haram. Kategori hewan haram sbb:

a) Binatang berkaki empat: yang tidak memamah biak & tidak terbelah dua
kukunya.
( Ulangan 14: 6-8 ; Imamat 11: 3-8).
b) Binatang yang hidup di air: yang tidak bersisik & tidak bersirip. (Ulangan
14: 9 ; Imamat 11:
9,12)
c) Burung: sebangsa burung buas & pemakan bangkai. (Ulangan 14:11-20 ; Imamat
11: 13-
20).
d) Binatang melata: yang tidak bertulang belakang (Imamat 11:21-47 ; Ulangan
14: 19).
e) Darah, lemak dan juga bangkai serta binatang halal yang mati dengan darah
tertahan/
tercekik, dilarang untuk dimakan. (Ulangan 12: 6,23-25 ; Ulangan 14:21 ;
Kejadian 9:4 ;
Imamat 3:17 ; Imamat 7: 23-27 ; Imamat 17: 10-16).

5.. Pantangan makan darah, lemak dan makanan haram, bukan hanya difirmankan
TUHAN dalam Kitab Perjanjian Lama tetapi juga difirmankan TUHAN dalam Perjanjian
Baru. Didalam nats Kisah Para Rasul 15: 20, 28-29 disebutkan sbb:
"Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami (Para Rasul), supaya kepada
kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: Kamu
harus menjauhkan diri dari...makanan (halal) yang dipersembahkan kepada
berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik, dan dari
percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini kamu berbuat baik.
Sekianlah, selamat." Firman TUHAN itu kekal selamanya dan "Yesus Kristus tetap
sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya."
(Ibrani 13:8 ; Ibrani 1:12).

Menurut orang-orang Kristen yang menolak memakan darah, lemak dan makanan haram,
semua nats-nats Firman TUHAN tersebut dengan tegas melarang kita memakannya.
Tidak memakan darah, lemak dan makanan haram adalah baik karena:
1.. Firman TUHAN yang menyatakannya.
2.. Nabi-nabi Perjanjian Lama melarang memakannya.
3.. Jemaat Perjanjian Lama tidak memakannya
4.. Rasul-rasul gereja pertama tidak memakannya.
5.. Jemaat gereja pertama tidak memakannya.
6.. Sebab Roh Kudus memutuskan tidak boleh dimakan.
7.. TUHAN meminta persembahan tubuh yang kudus. (1 Kor 6:19,20 ; Roma 12:1).

Jika kita membaca argumentasi masing-masing golongan maka sepertinya semuanya
benar? Seolah-olah tidak ada yang salah. Hal ini menyebabkan banyak orang
Kristen mengatakan: "Masalah darah, lemak dan makanan haram tidak perlu
diperdebatkan, karena mempersoal kannya sama dengan mencari jarum ditumpukan
jerami. Masalah tersebut serahkan saja kepada masing-masing jemaat. Kalau orang
Kharismatik menolak makan darah, biarkan saja. Jangan dihina. Kalau orang
Kristen tradisionil makan darah, lemak dan makanan haram, biarkan saja. Jangan
dicela. Kalau orang Kristen Advent menolak makan darah, lemak dan makanan haram.
Biarkan saja. Jangan dituduh sesat. Tidak ada jalan keluar untuk memecahkan
masalah darah, lemak dan makanan haram. Masalah tersebut sudah berkarat dalam
theologia gereja. Mempersoalkannya sama dengan memancing perselisihan antar
gereja.

Apakah Saudara setuju dengan pendapat tersebut? Kita harus menolak pendapat
tersebut karena tidak sesuai dengan Firman TUHAN. Pendapat tersebut sifatnya
kabur. Seolah-olah memakan makanan tersebut benar. Tidak memakan darah, lemak
dan makanan haram juga benar. Tidak mungkin semuanya benar. Pasti ada yang
Alkitabiah dan ada yang salah. Masalah tersebut tidak boleh di peti-eskan,
tidak boleh didiamkan, tidak boleh di tutup-tutupi. Firman TUHAN yang benar
harus dibukakan, harus diajarkan, harus di propagandakan. Mendiamkan masalah
darah, lemak dan makanan haram, sama artinya mengurangi kebenaran Firman TUHAN.
Ketika gereja pertama mempersoalkan apakah hal-hal itu boleh dimakan, maka
Rasul-rasul tidak hanya diam, tetapi mereka mengadakan rapat untuk menjawabnya.
Alkitab mengatakan bahwa darah, lemak dan daging binatang haram tidak boleh
dimakan!

Tetapi orang-orang Kristen yang memakan darah, lemak dan makanan haram, juga
mengatakan: Alkitab mengatakan boleh dimakan! Keduanya memakai Alkitab. Manakah
yang benar?
Tidak mungkin keduanya benar. Pasti hanya satu yang benar yaitu darah, lemak dan
makanan haram tidak boleh dimakan. Mereka yang memakannya berkata bahwa larangan
makan darah, lemak dan makanan haram adalah ajaran Perjanjian lama. Hal ini
tidak benar.
Larangan memakan darah, lemak dan daging binatang haram bukan hanya pengajaran
Perjanjian lama, tetapi juga pengajaran Perjanjian Baru.

Tetapi mereka yang memakannya mengatakan bahwa darah, lemak dan daging binatang
haram adalah makanan khas suku-suku tertentu. Jika kita melarang mereka makan
darah, lemak dan daging binatang haram, maka akan berakibat buruk, yaitu mereka
akan keberatan dengan agama Kristen, sehingga mereka akan menolak gereja kita.
Mereka akan masuk ke gereja yang tidak melarang memakan darah, lemak dan
makanan haram.

Kita harus menyesuaikan ajaran gereja dengan kebudayaan masyarakat dimana gereja
berada. Supaya gereja kita memiliki banyak anggota.
Mereka yang berkata seperti itu lupa bahwa gereja berasal dari atas dan bukan
dari dunia ini. Mereka lupa bahwa gereja harus mempengaruhi dunia ini dan bukan
dunia ini yang mempengaruhi gereja. Bukan dunia ini yang merubah gereja, tetapi
gereja yang harus merubah dunia ini.
Orang Kristen tidak boleh menyesuaikan diri dengan kebiasaan-tradisi adat
istiadat yang bertentangan dengan Firman TUHAN. Orang Kristen harus keluar dari
dunia ini.

Kita harus mengutamakan Firman TUHAN, bukan mengutamakan tradisi. Manusia
dipanggil TUHAN bukan untuk sekedar menjadi anggota gereja tetapi untuk menjadi
anak-anak TUHAN. Sebagai anggota kerajaan Allah maka semua orang Kristen harus
tunduk kepada peraturan yang datang dari kerajaan Bapa kita yang disurga, yang
melarang memakan darah, lemak dan makanan haram. Jika kita lebih mengutamakan
tradisi manusia, maka percumalah ibadah kita sebab di dalam matius 15:6-9
dikatakan: "Dengan demikian Firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi
adat-istiadatmu sendiri. Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat nabi Yesaya
tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh
dari padaKu. Percuma mereka beribadah kepadaKu, sedangkan ajaran yang mereka
ajarkan ialah perintah manusia."

TUHAN memberi pilihan bagi kita: memilih Firman TUHAN atau memilih adat-istiadat
manusia. Sehingga tidak melarang darah, lemak dan makanan haram untuk tujuan
menambah jumlah anggota gereja adalah prinsip pekabaran Injil yang tidak sesuai
dengan Firman TUHAN. Paulus mengatakan: "Aku mengabarkan Injil bukan dengan
hikmat dan kekuatan manusia tetapi dengan kuat kuasa kebenaran Firman TUHAN."
Jika kebenaran Firman TUHAN ditaburkan maka Roh Kudus akan menambah jumlah
orang-orang yang diselamatkan. Gereja harus beranggotakan orang-orang yang
menerima kebenaran Alkitab, orang-orang yang sudah diselamatkan secara pribadi
dan mau taat kepada Firman TUHAN.

Tetapi orang-orang yang menolak larangan makan darah, lemak dan makanan haram,
keberatan dengan alasan tersebut dan mengatakan: "Memakan darah, lemak dan
makanan haram, atau tidak memakannya - tidak ada hubungannya dengan
keselamatan. Kita diselamatkan karena kasih karunia bukan karena makan darah
atau tidak makan darah."
Nats Alkitab yang mereka pakai adalah Roma 14: 1-6, 17,20 dan 1 Korintus 8:8
sebagai dasar argumentasi. Mereka mengutip ayat Alkitab yang mengatakan: "Sebab
Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai
sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus." Nats itu kemudian mereka sambung dengan
ayat lainnya yang berbunyi: "Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada
Allah. Kita tidak rugi apa-apa kalau kita makan dan kita tidak untung apa-apa
kalau kita makan."
Bahkan ada juga orang-orang Kristen yang mengatakan: "Darah, lemak dan makanan
haram adalah makanan yang lezat, sehingga bodoh sekali jika kita tidak memakan
darah, lemak dan daging binatang haram yang diciptakan TUHAN."
Mereka mengatakan lagi: "Semua makanan boleh dimakan, asal saja dilakukan dengan
ucapan syukur. Karena doa kita sudah menguduskan makanan yang kita makan."
Untuk memperkuat alasan mereka maka mereka mengutip Roma 14:6 sebagai ayat
bukti.

Nats tersebut mengatakan: "Dan siapa makan, ia melakukannya untuk TUHAN, sebab
ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk
TUHAN, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah."
Dengan mengutip nats ini lepas dari hubungan kalimatnya maka larangan makan
darah, lemak dan makanan haram seolah-olah tidak berlaku. Apalagi jika ayat itu
kita sambung-sambung dengan nats lainnya yang mengatakan: " Siapa yang makan
janganlah ia menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan
janganlah ia menghina orang yang makan, sebab mereka yang makan melakukannya
dengan mengucap syukur kepada Allah." Jika disambung seperti itu maka memakan
darah, lemak dan daging binatang haram, seolah-olah tidak salah. Tetapi
sambung-menyambung ayat lepas dari hubungan kalimatnya atau konteksnya sangat
menyesatkan.

Dengan menggunakan nats - nats itu maka seolah-olah larangan makan darah, lemak
dan makanan haram menjadi batal mutlak. Apakah benar nats itu membatalkan
larangan makan darah, lemak dan makanan haram? Kalau nats itu membatalkan
larangan makan darah, lemak dan makanan haram, maka berarti Firman TUHAN
bertentangan satu dengan yang lainnya, berhantam-hantaman satu sama lain. Dapat
digunakan sesuka hati sesuai dengan keinginan pribadi. Karena seolah-olah nats
Firman TUHAN dapat diadu domba. Kedua nats tersebut harus diartikan sesuai
dengan konteks masalah. Tidak boleh dikutip terpisah dari hubungan kalimatnya.
Jika dikutip sepotong-sepotong maka memang seperti dapat membatalkan larangan
makan darah, lemak dan makanan haram.

Bacalah nats-nats tersebut sesuai dengan hubungan kalimatnya. Roma 14: 6,17 sama
sekali tidak bertujuan membatalkan larangan makan darah, lemak dan makanan
haram. Sesuai dengan konteks-nya maka latar belakang ayat itu adalah tentang
makanan-makanan (halal) yang sudah dipersembahkan kepada berhala, boleh dimakan
atau tidak? Hal ini juga berlaku untuk nats 1 Korintus 8:8. Bacalah seluruh
konteks ayat-ayat selengkapnya Roma 14:1-23 dan 1 Korintus 8:1-13, maka jelas
bahwa memakan daging (halal) yang sudah dipersembahkan kepada berhala tidak
mendatangkan untung apa-apa dan apabila tidak memakannya kita tidak rugi
apa-apa. Karena bagi orang Kristen yang kuat imannya, berhala itu tidak ada
apa-apanya, namun sesungguhnya ada sebagian orang Kristen yang memiliki hati
nurani yang lemah yang masih terikat pada berhala-berhala sehingga hatinya
masih was-was / syak / bimbang terhadap makanan yang sudah dipersembahkan
kepada berhala. Jika mereka ikut memakannya maka hati nurani mereka dinodai
olehnya dan menjadikan mereka tersandung & binasa dalam dosanya ( Roma 14: 23).

Itulah sebabnya kepada orang-orang Kristen yang kuat imannya dinasehati: "Tetapi
jagalah supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang
lemah." (1 Korintus 8: 9) Dan didalam Roma 15:1 : " Kita yang kuat, wajib
menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan
kita sendiri." "Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau
sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu." (Roma 14:21) " Karena itu
apabila makanan (yang dipersembahkan berhala) menjadi batu sandungan bagi
saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging (yang sudah
dipersembahkan kepada berhala) lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan
bagi saudaraku." (1 Korintus 8:13).

Darah, lemak dan daging binatang haram, meskipun lezat tidak boleh dimakan.
Orang Kristen harus mengendalikan diri dari makanan yang dilarang oleh Firman
TUHAN. Melanggarnya sama dengan hawa nafsu kedagingan, pemuasan nafsu perut.
"...Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk
hidup di dalam dosa (dengan membiarkan keinginan tubuhmu menguasaimu)." Galatia
5:13 GNB. "...Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau
melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah."
(1Korintus 10:31).

Kemerdekaan yang kita miliki dalam Kristus adalah kemerdekaan dari dosa dan
kemerdekaan dari masa lalu kita yang diperbudak oleh keinginan tubuh kita.
Hidup baru kita sebagai umat Allah dalam Kristus adalah salah satu sukacita,
tetapi bukanlah salah satu dari ketidak bertanggung-jawaban kita. Salah satu
buah roh adalah penguasaan diri, bertarak, pengendalian diri (Galatia 5:22).
Jadi jika kita telah memiliki hidup baru, maka kita tidak lagi diperbudak oleh
keinginan tubuh melainkan Roh Kudus yang mengontrol hidup kita, bukan keinginan
tubuh kita yang mengendalikan kita.
Betapa masih banyak umat Allah yang sedang diperbudak dan dikuasai oleh
keinginan tubuhnya bukan oleh kebutuhan tubuhnya. Mereka ketagihan akan rokok,
minuman keras, demikian juga ketagihan memakan darah, lemak dan daging binatang
haram, yang dilarang oleh TUHAN; yang sebenarnya secara ilmiah telah dibuktikan
bahwa makanan ini tidak berguna, melainkan hanya untuk kepuasan keinginan tubuh
saja, bahkan bisa membahayakan kesehatan tubuh kita.
Larangan memakan darah, lemak dan daging binatang haram, tidak ada hubungannya
dengan keselamatan. Tidak memakan darah, lemak dan daging binatang haram, tidak
menentukan apakah seseorang masuk surga atau tidak, tetapi yang jelas tidak
memakan darah, lemak dan makanan haram berarti mentaati satu bagian dari Firman
TUHAN. Orang Kristen harus menguasai diri dari nafsu perut, kedagingan dan hawa
nafsu untuk memakan darah, lemak dan daging binatang haram.

Alasan yang lain yang juga sangat sering dipergunakan untuk membatalkan larangan
makan darah, lemak dan makanan haram ialah karena mereka berpegang kepada nats
Matius 15:11 yang mengatakan: " Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan
orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang."
Dengan ayat ini maka mereka mengatakan bahwa memasukkan darah, lemak dan daging
binatang haram kedalam tubuh tidak menajiskan orang, tetapi mengeluarkan
kata-kata kotor dari mulut yang menajiskan orang. Apakah tafsiran itu benar?
Dalam hal ini kembali mereka berbuat kesalahan dengan mengutip nats Alkitab
sepotong -sepotong lepas dari hubungan kalimatnya, mengambil Matius 15:11 tanpa
memulai ayat -ayat pendahuluannya. Ayat 11 tersebut sesungguhnya tidak
berhubungan dengan darah, lemak dan daging binatang haram.
Buktinya adalah sebagai berikut: kita harus melihat latar belakangnya dari ayat
2. Pada waktu itu orang Parisi dan ahli Taurat melihat Yesus dan
murid-muridNya makan tanpa membasuh tangan. Sedangkan menurut tradisi mereka
walaupun makanan yang dimeja semuanya adalah makanan halal, namun makanan yang
dimakan tanpa membasuh tangan adalah najis atau haram. Ahli-ahli Taurat dan
orang-orang Parisi itu menuduh Yesus dan murid-muridNya najis karena makan
tanpa membasuh tangan terlebih dahulu. Yesus lalu menegur mereka: "Bukan apa
yang masuk kedalam mulut yang menajiskan orang, tetapi yang keluar dari mulut
itulah yang menajiskan orang." "Tetapi makan tanpa membasuh tangan tidak
menajiskan." (Matius 15:11,18-20).

Jadi Matius 15 tidak membicarakan tentang darah, lemak dan makanan haram,
melainkan yang dipersoalkan ialah apakah makan tanpa upacara membasuh tangan
haram atau tidak.
Jawab Yesus, bahwa yang paling utama adalah jangan mengeluarkan perkataan buruk
dan kotor dari mulut kita. Ini diucapkan untuk menyindir orang Parisi dan ahli
Taurat yang hatinya tidak bersih dan menegur kemunafikan mereka yang hanya
memperhatikan peraturan tradisi lahiriah tanpa memperhatikan hidup rohani yang
didalam batin. Yesus tidak bermaksud mengajarkan siapa saja boleh makan tanpa
dibasuh terlebih dahulu, apalagi membatalkan larangan makan darah, lemak dan
daging binatang haram.
Dengan demikian jelas bahwa nats Alkitab tidak boleh dikutip sepotong-sepotong
terlepas dari latar-belakangnya. Matius 15:11 harus diartikan sesuai konteks
dari ayat permulaannya.
Darah, lemak dan daging binatang haram tidak boleh dimakan karena demikianlah
tertulis dalam Alkitab. Namun ada juga orang-orang Kristen yang menggunakan
ayat dalam Kisah para Rasul 10:15 sebagai nats Alkitab untuk membenarkan
perbuatan mereka makan darah, lemak dan daging binatang haram. Ayat tersebut
berbunyi: "Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan
haram."

Dengan berpegang kepada ayat tersebut maka mereka berkata bahwa TUHAN sudah
menghalalkan makan darah, lemak dan daging binatang haram.
Jika kita menilai alasan diatas maka dasarnya adalah penafsiran yang salah dari
maksud ayat tersebut, karena hanya di ambil ayat tersebut sepotong terlepas
dari konteksnya, sehingga menyesatkan.
Mereka telah membuat kesalahan serupa, yaitu mengutip nats Alkitab
sepotong-sepotong lepas dari hubungan kalimat, mengambil Kisah 10:15 tanpa
memulai ayat-ayat pendahuluannya. Ayat 15 tersebut sesungguhnya tidak
berhubungan sama sekali dengan larangan makan darah, lemak dan makanan haram.
Sebagai buktinya marilah kita melihat latar belakangnya mulai dari ayat 1. Pada
waktu itu
Orang Yahudi tidak boleh bergaul dengan orang yang bukan Yahudi, apalagi masuk
kerumah mereka, hukumnya adalah haram atau najis. Kornelius seorang yang bukan
Yahudi, ia adalah seorang perwira pasukan Italia, namun saleh & takut akan
TUHAN. Ia bermaksud mengundang rasul Petrus untuk datang dan mengajar seluruh
isi rumahnya.

Sebagai seorang Yahudi Rasul Petrus saat itu pasti enggan dan akan menolak
undangan orang bukan Yahudi itu. Itulah sebabnya TUHAN memberikan khayal
(penglihatan) kepada Rasul Petrus yang berbentuk kain lebar yang bergantung
pada keempat sudutnya, didalamnya terdapat segala binatang haram. Lalu TUHAN
berkata:
" Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!" Tetapi Petrus menjawab:
"Tidak, TUHAN, tidak!, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang
tidak tahir (najis)." Lalu kedengaran pula untuk keduakalinya: "Apa yang
dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram." Hal ini
terjadi dalam khayalnya sampai tiga kali,namun rasul Petrus tetap menolaknya,
dan akhirnya terangkatlah benda itu kelangit.

Saat itu rasul Petrus sedang berpikir dan merenungkan didalam hatinya apa
kiranya arti/makna penglihatan yang dilihatnya itu, tiba-tiba terdengarlah
suara orang suruhan Kornelius menanyakan tentang Petrus. Petrus belum faham
arti penglihatan tersebut, sehingga ia pasti akan menolak utusan tersebut.
Namun Roh TUHAN meyakinkan Petrus untuk jangan menolaknya, jangan syak/bimbang
untuk berangkat memenuhi undangan Kornelius karena TUHAN yang menyuruhnya.
Akhirnya rasul Petrus berangkat untuk memenuhi undangan Kornelius orang bukan
Yahudi itu dan masuk kerumahnya, karena sekarang Petrus sudah tahu arti / makna
dari khayal/penglihatan yang diterimanya.

Hal ini nyata jelas dalam ayat 28: "Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi
seorang Yahudi (Rasul Petrus) untuk bergaul dengan orang yang bukan Yahudi
(Kornelius & seisi rumahnya) atau masuk kerumah mereka. Tetapi Allah telah
menunjukkan kepadaku (melalui khayal/penglihatan), bahwa aku tidak boleh
menyebut orang najis atau tidak tahir." Itulah sebabnya aku tidak berkeberatan
ketika aku dipanggil, lalu datang kemari."
Kemudian Rasul Petrus menceritakan tentang khayal penglihatan yang telah
diterimanya dari TUHAN itu dan menyimpulkan dalam ayat 34-35: " Sesungguhnya
aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari
bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan
kepadaNya." Dan hal itu dijelaskan sekali lagi oleh rasul Petrus di Yerusalem.
(Kisah Para Rasul 11: 1-18).
Dengan demikian, rubuhlah alasan yang membatalkan larangan makan darah, lemak
dan makanan haram. Tidak ada ayat Alkitab yang mengatakan boleh makan darah,
lemak dan daging binatang haram!
Dan yang terakhir, ayat lain yang sering disalah-gunakan oleh orang-orang yang
memakan darah, lemak dan daging binatang haram, untuk membenarkan perbuatan
mereka yaitu Kolose 2:16-17 yang berbunyi sebagai berikut:
"Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan atau
minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini
hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus."

Dengan berpegang kepada nats tersebut maka mereka berkata bahwa di dalam Kristus
kita sudah bebas, tidak diikat oleh peraturan makanan dan minuman, peraturan
hari-hari raya dan peraturan hari Sabat.
Dalam mengemukakan benteng terakhir ini, kembali mereka berbuat kesalahan lagi
dengan mengutip nats Alkitab lepas dari hubungan kalimat dan maksudnya, serta
memasangkan seenaknya kepada persoalan darah, lemak dan makanan haram. Padahal
yang dimaksudkan dalam nats tersebut bukanlah masalah darah, lemak dan makanan
haram, tetapi masalah persembahan makanan dan minuman atau mengenai hari raya,
bulan baru ataupun hari Sabat tahunan yang dirayakan oleh orang-orang Ibrani
sebelum Yesus menjelma menjadi manusia untuk menggenapinya seperti yang tertulis
dalam Imamat 23.

Kita dapat memperhatikan ayat-ayat sebelumnya maka tidak ada kaitannya dengan
darah, lemak dan makanan haram. Latar belakang pada ayat 14 dengan jelas
berbicara mengenai peraturan dalam Imamat 23, tentang tujuh hari raya tahunan
orang-orang Ibrani atau tujuh Sabat tahunan yang dirayakan dengan
mempersembahkan korban api-apian: korban bakaran, korban sajian (makanan roti),
korban sembelihan dan korban-korban curahan (minuman anggur); yang kesemuanya
menubuatkan segi-segi kehidupan Yesus Kristus, yaitu hari raya Paskah, hari
raya Roti Tidak Beragi, hari raya Buah Sulung, hari raya Pentakosta, hari raya
Sangkakala, hari raya Pendamaian dan hari raya Pondok Daun.
Jadi semua hari-hari raya Sabat tahunan ini dengan berbagai upacara kurban, dan
persembahan makanan dan minuman, adalah merupakan bayangan yang wujudnya adalah
Yesus Kristus. Itu telah dipakukan di kayu salib, karena semuanya itu hanyalah
lambang yang menunjuk kepada Yesus Kristus, sehingga kita tidak perlu lagi
merayakannya.

Dengan demikian yang pasti bahwa Kolose 2:16,17 tidak ada kaitannya dengan
larangan makan darah, lemak dan makanan haram, sehingga tidak dapat dipakai
untuk membenarkan perbuatan makan darah, lemak dan daging binatang haram.

Sebagai bagian akhir maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut:
1.. Alkitab mengajarkan orang Kristen tidak boleh memakan darah, lemak dan
daging binatang haram.
2.. Nabi-nabi dan Jemaat Perjanjian lama tidak memakan darah, lemak dan makanan
haram.
3.. Yesus Kristus, Rasul-rasul dan Jemaat Perjanjian Baru juga tidak memakan
darah, lemak dan makanan haram.
4.. Roh Kudus memerintahkan tidak boleh memakannya.
5.. Dalam Alkitab tidak ada tertulis pembatalan larangan memakan darah, lemak
dan daging binatang haram.
6.. Jika kita telah memiliki hidup baru, maka kita tidak lagi diperbudak oleh
keinginan tubuh, melainkan Roh Kudus yang mengontrol hidup kita, bukan
keinginan tubuh kita yang mengendalikan kita.
7.. Tujuan larangan memakan darah, lemak dan makanan haram adalah untuk menguji
kepekaan rohani anak-anak TUHAN, apakah mau percaya dan taat kepada Firman
TUHAN dengan iman. Penurutan kepada Firman TUHAN adalah buah keselamatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar